Breaking

Agen Poker Online

Monday, July 10, 2017

CERSEX RISKA SEBAGAI PELAMPIASAN NAFSUKU SAAT LAGI TEGANG






Panggil saja aku Dafa, aku sudah mempunyai istri yang bernama Kiran. Setahun kami menikah kami maish belum dikasih momogan, mungki juga disebakan karena kesibukan kita masing-masing jadi kita sedikit menysihkan ursan tentang momongan. Namun dibalik kita yang belum mempunyai momongan, hubungan keluargaku tetap saja harmonis. Namun untuk urusan sex, sekarang aku jarang mendapatkan servis yang memuaskan dari istriku. Mungkin karena dia terlalusibuk dngan urusan kantornya,karena istriku baru saja diangkat sebagai manajer diperusahan tempatnya bekerja. Karena itulah timbul dalam hatiku kalau aku ingi mencari seorang pelarian untuk memuaskan nafsubirahiku yang selalu saja tak terpaskan.

Setelah sejenak kuputar otakku untuk mencari siapa wanita yang cocok untuk kujadikan pelarian, akirnya aku ingat kalau aku mempunya seorang tetanga yang cantik dan juga bodinya sangat menggoda. Namanya Riska, dia isti dari seorang pelaut yang kupiir dia juga kesepiankarena jarang dibelai oleh suaminya yang plang hanya sebuan dalam setahun. Ditambah lagi Riska uga belum mepunyai anak, ahsil ia pasti selalu kesepian keka dirumah. Sempet juga kulihat Riska menggunakan pakaian sangat ketat hingga menunjukkan lekukan tubuhnya ang sangat indah. Dari luar baju ketatnya, kulihat payudara yang sangat kencang mengancung keatas hingga membuatku menelan ludah.

Mengingat tetanggaku yang sangat mengoda itu, aku pun beniat melaksanakan niatku untuk menjadikannya pelampiasan nafsuku, karena kupikir Riska pasti juga mebutuhkan sentuhan dari seorang laki-laki yang pasti dia rindukan. Jadi kupkir, Riska gak bakal menolak jika kuajak selingkuh dan menjadi pelarian nafsu birahi sex ku.

Semakin bertambah hari, istriku semakin disibukkan dengan urusan kantornya yang semakin lama membuatnya semakin gak mengursku. Hal itulah yang mebuat tekatku lebih bulat untuk menjadikan Riska sebagai pelarianku. Setiap pagi aku selalu menanti Riska lewat depan rumahku, karena setiap pagi pasti Riska selalu jalan-jalan mungkin sekedar olah raga ringan. 

Dan benar, setelah beberapa saat kunantikan, akhirnya Riska lewat sendirian. Pagi itu Riska masih mengenakan baju tidur, sehingga gak terlihat tubuhnya yang bahenol dan molek itu, tapi kulihat suatu garis terlihat dipantat Riska, seperti garis CD Riska. Setelah kuamati dengan cermat, ternyata baju tidur yang Riska pakai itu cukup menerawang yang membuat garis dan bahkan warna CD-nya kelihatan, pagi-pagi burungku udah dibuat tegang oleh pantat Riska. Tak salah jika kupilih Riska sebagai pelarian nafsuku, meski dikomplek banyak juga yang seksi-seksi, tapi lebih aman dengan Riska karena hanya Riska yang ditinggal suaminya.

Pagi itu dengan memberanikan diri, kusapa Riska,

“Pagiii mbak Riska, sendiran ya” ujarku.

“Iyaaa nih pak, biasa pak suami sedang berlayar” jawab Riska.

“Ooowwh..Emang suami kapan pulangnya mbak??” tanyaku lagi.

“Aaaahhh masih lama pak, orang berangkatnya aja baru bulan kemaren kok, mungkin masih sekitar 7 bulan lagi pak” balas Riska yang membuatku lega, karena selama 7 bulan aku aman mendekati Riska

“Ooowwhh begitu ya mbak, apa mbak Riska nggak kesepian ditinggal lama gitu???” tanyaku memancing.

“Yeeaaah aslinya siiihh kesepian pak, namun mau gimana lagi pak, itu sudah resikonya menjadi istri pelaut pak” jawab Riska.

“Aaaahhh aku juga kesepian mbak mesi istriku dirumah, namun dia selalu sibuk dengan urusan kerjanya mbak” baasku sambil memancing jawaban dari Riska.

“Aaaahh…Masak siiih pak??” balasnya dan akirnya kita terus ngobrol berkelanjutan sampai gak terasa siang sudah datang dan kami pun sekarang menjadi semakin dekat.

Cantik, seksi dan mengairahkan adalah 3 hal yang membuat ku selalu menyempatkan untuk curi-curi pandang pada Riska dan gak lupa melihat jemuran pakaiannya untuk melihat koleksi pakaian dalamnya yang jalang itu.

Suatu ketika saat aku pulang dari kantor, aku mampir kemini market dekat kompleks sekedar membeli makanan instan karena isteriku akan pergi selama 3 hari keBandung. Tak kusangka dimini market itu aku bertemu Riska. Entah kenapa seketika itu juga jantungku jadi berdegup kencang, apalagi saat kulihat pakaian Riska yang body-fit, baik kaos maupun roknya. Seluruh lekuk kemolekan tubuhnya seakan memanggil birahiku untuk naik..

“Hai…Mbak, belanja juga yaa” sapaku.

“Eehhh. . Mas Dafa, biasa belanja bulanan” jawabnya dengan senyum menghiasi wajah sensualnya.

“Berat gak sih mbak, punya suami pelaut, sebab aku yang ditinggal isteri cuma 3 hari aja rasanya sudah jenuh” tanyaku.

“Waaaah…Mas baru 3 hari ditinggal saja sudah begitu, apalagi aku. Bayangkan aku cuma ketemu suami sebulan dalam waktu setahun” jawab Riska.

Aku merasa senang dengan topik pembicaraan ini, dan kuambil inisiatif,

“Kalau begitu biar kubantu bawa belanjaannya” lalu kuambil keranjang belanja Riska.

“Terima kasih, sudah selesai kok, aku mau bayar terus pulang” jawabnya.

“Ooohh…mari kita sama-sama” ujarku.

Segera saja kuambil inisiatif berjalan lebih dulu kekasir dan dengan sangat antusias membayar semua belanjaan Riska.

“Haaa…Sudah bayar berapa nanti kuganti yaaa” kata Riska kaget.

“Aaahh..Sedikit kok, gak papa sekali-kali aku bayarin susunya, siapa tahu dapat susunya yang minum, ha-ha-ha” balasku mulai bercanda yang sedikit menjurus.

“Iiiihh. . Mas Dafa” jerit Riska malu-malu.

Tapi kulihat tatapan mata liarnya yang seakan menyambut canda nakalku. Kita berjalan menuju mobilku, setelah menaruh belanjaan kedalam bagasi, aku mengajaknya makan dulu. Dengan malu-malu Riska mengiyakan ajakanku.


Kami kemudian makan disebuah resto makanan laut didekat kompleks. Aku sangat senang karena semakin lama kami menjadi semakin akrab dan Riska juga mulai berbaik hati memberikan kesempatan padaku untuk ngelaba . 

Mulai dari posisi duduknya yang sedikit mengangkang sehingga aku dengan mudah melihat kemulusan paha montoknya dan tatkala usahaku untuk melihat lebih jauh kedalam Riska seakan memberiku kesempatan. Saat aku menunduk untuk mengambil garpu yang dengan sengaja kujatuhkan, Riska semakin membuka lebar kedua pahanya.

Jantungku berdegup sangat kencang melihat pemandangan indah didalam rok Riska. Diantara dua paha montok yang putih dan mulus itu kulihat CD Riska yang berwarna merah dan brengsek, transparan! Dengan cahaya dibawah meja tentu saja aku gak dapat dengan jelas melihat isi CD merah itu, namun itu cukup membuatku gemetar dibakar birahi. Saking gemetarnya aku sampai terbentur meja saat hendak bangkit.

“Hi-hi-hi. . Hati-hati Mas. .” celoteh Riska dengan nada menggoda.

Kupandang wajah Riska yang tersenyum nakal padaku, kuberanikan diri memegang tangannya dan ternyata Riska menyambutnya.

“Hhhmm. . Maaf, aku cuma mau bilang kalau mbak Riska. . Seksi sekali” kataku dengan malu-malu akhirnya perkataan itu keluar juga dari mulutku.

“Makasih, mas Dafa juga. . Hmm. . Gagah, lucu dan terutama, mas Dafa laki-laki yang paling baik yang pernah kukenal . 

O ya , aku tersanjung juga dengan rayuannya, Gara-gara kutraktir mbak bukan cuma itu, saya sering memperhatikan mas Dafa dirumah dan dari cerita mbak Kiran, Mas Dafa sangat perhatian dan rajin membantu pekerjaan di rumah, wah. . Jarang lho mas, ada lakilaki dengan status sosial seperti mas yang sudah mapan dan berpendidikan namun masih mau mengepel rumah. 

Hahaha..” aku tertawa gembira, Rupanya bukan cuma aku yang memperhatikan kamu, tapi sebaliknya juga kamu.

“Jadi mas Dafa juga sering memperhatikanku benar??tanya Riska.

“Aku paling senang melihatmu membersihkan halaman rumah dipagi hari dan waktu menjemur pakaian”.

“Eh.. Kenapa kok senang”.

“Sebab aku mengagumi keindahan mbak Riska, juga selera pakaian dalam mbak” aku berterus terang
Pembicaraan ini semakin mempererat kami berdua, seakan gak ada jarak lagi diantara kita. Akhirnya kita pulang sekitar pukul setena 9 malam. Sampai dirumah kubantu membawa barang belanjaan Riska kedalam rumahnya. Mbak Riska masuk kekamar untuk menaruh seagian bawaannya, sementara aku menaruh barang belanjaan didapur.

Setelah itu aku duduk diruang tamu menunggu Riska muncul. Sekitar 10 menit, Riska muncul dari dalam kamar, Riska ternyata sudah berganti pakaian. Sekarang wanita itu mengenakan bau tidur yang sangat seksi, warnanya merah transparan dan sagat menggoda. Seluruh lekuk tubuhnya yang montok hingga pakaian dalamnya dapat kulihat dengan jelas. Sinar lampu ruangan cukup menerangi pandanganku untuk menjelajahi keindahan tubuh Riska dibalik gaun malamnya yang transparan itu. payudaranya terlihat bagaikan buah kelapa yang memenuhi BH seksi yang berwarna merah transparan. Dibalik BH itu kulihat samar-samar putting susunya yang juga besar dan kemerahan. 

Perutnya memang sedikit berlemak dan turun, tapi sama sekali gak mengurangi nilai keindahan kemolekannya. Apalagi jika memandang bagian bawahnya yang montok. Cerita Sex
Tak seperti dibawah meja sewaktu direstoran tadi, sekarang dapat kulihat dengan jelas CD merah transparan milik Riska. Sungguh indah dan sangat membuatku merangsang, terutama warna hitam di bagian tengahnya, membayangkannya saja aku sudah berkali-kali menelan ludah.

“Hmm. . gak keberatan kan kalu aku memakai baju tidur” tanya Tiara memancing
Sudah sangat jelas kalau perempuan ini ingin mengajakku selingkuh dan melewati malam bersamaku. Sekarang keputusan seluruhnya berada ditanganku, apakah aku akan berani mengkhianati Kiran dan menikmati malam bersama Riska yang bahenol ini.

Riska duduk disampingku, tercium semerbak aroma parfum dari tubuhnya membuat hatiku semakin bergetar. Sekarang keadaan ternyata jauh diluar dugaanku. Kemarin-kemarin aku masih merasa bermimpi jika bisa membelai dan meremas-remas tubuh Riska, tapi sekarang perempuan ini justru yang menantangku.

“Mas Dafa mau mandi dulu?? Nanti aku siapkan air hangat” tanya Riska sambil menggenggam tanganku erat.

Dari sorotan matanya sangat terlihat bahwa perempuan ini benar-benar membutuhkan belaia seorang laki-laki untuk memuaskan birahi nafsunya.

“Hmm. . Sebelum terlalu jauh, kita harus membuat komitmen dulu mbak” kataku agak serius.

“Apa itu Mas”.

“Pertama, terus terang aku mengagumi mbak Riska, baik fisik maupun pribadi, jadi sebagai laki-laki aku sangat tertarik pada mbak” kataku.

“Terima kasih, aku juga begitu pada mas Dafa” Riska merebahkan kepalanya dipundakku.

“Kedua, kita sama-sama sudah menikah, jadi kita harus punya tanggung jawab untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga kita, apa yang mungkin kita lakukan bersama-sama janganlah menjadi pemecah rumah tangga kita”.

“Setuju, aku sangat setuju Mas, saya hanya ingin punya teman waktu aku kesepian, kalau mas Dafa mau kapanpun mas bisa datang kesini, selagi gak ada suamiku. namun aku sekalipun gak akan meminta apapun dari mas Dafa dan sebaliknya aku juga ingin mas Dafa demikian pula, sehingga hubungan kita akan aman dan saling menguntungkan”.

“Hmm. . Kalau begitu gak ada masalah, aku mau telpon kerumah, supaya pembantuku gak kebingungan”.

“Kalau begitu, mas Dafa pulang saja dulu, taruh mobil digarasi, kan lucu kalau mas Dafa bilang ada acara sehingga tidak bisa pulang, sementara mobilnya ada didepan rumahku”.

“Oh. . Iya, aku hampir lupa”.

Kemudian aku segera keluar dan pulang dulu kerumah, menaruh mobil digarasi dan mandi. Setelah itu aku bilang pada pembantuku kalau aku akan menginap dirumah temanku. Tapi gak jadi karena pembantuku ternyata sudah tidur. Segera kudatangi kembali rumah Riska. Peremuan itu sudah menungguku diruang tamu dengan secangkir teh hangat diatas meja. Pahanya yang montok terpampang indah diatas sofa.

“Wah. . Ternyata mandi di rumah ya padahal aku sudah siapkan air hangat”

“Terima kasih, mbak Riska baik sekali”.

Perempuan itu berjalan menutup pintu rumah, dari belakang kupandangi kemontokan pantatnya yang besar dan padat. Kebesaran pantat itu gak mampu dibendung oleh CD merah itu, hingga memperlihatkan belahannya yang mebuatku terangsang. Seperti tak sadar aku menghampiri Riska, kemudian dengan nakal kedua tanganku mencengkeram pantatnya dan meremasnya.

“Uhh…” Riska agak kaget dan menggelinjang.

“Maaf” kataku.

“Gak papa mas, justru.. Enak” kata Tiara seraya tersenyum nakal memandangku.

Senyum itu membuat bibir sensualnya seakan mengundangku untuk melumatnya. Crup. . ! , aku segera menciumnya, Riska membalasnya dengan liar. Aku tak tahu sudah berapa lama bibir itu tak merasakan ciuman laki-laki, yang jelas ciuman Riska sangat panas dan liar. Berkali-kali perempuan itu nyaris menggigit bibirku, lidahnya yang basah meliuk-liuk dalam rongga mulutku. Aku semakin bernafsu, tanganku menjalar di sekujur tubuhnya, berhenti dikemontokan pantatnya dan kemudian meremasinya penuh nafsu.

“Oooohh. . Ergh. .” lenguh Riska disela-sela ciuman panasnya.

Dengan beberapa gerakan, Riska meloloskan gaun tidurnya hingga terjatuh dilantai. Sekarang perempuan itu hanya mengenakan BH dan CD yang berwarna merah transparan itu. Aku sangat terpaku sejenak mengagumi keindahan pemandangan tubuh Riska.

“Wowww. . Kamu. . Benar-benar seksi mbak… Payudara mbak besar sekali” pujiku.

“Hi-hi-hi…Nah coba tebak ukuran toketku” tanyanya seraya memegang kedua payudara didadanya itu.

“36D” jawabku.

“Salah”.

“37B”.


“Masih salah”.

“Sudah lihat aja nih”.

Riska membuka pengait BH-nya, hingga kedua toketnya yang montok itu serasa hampir mau jatuh. Riska membuka dan melempar BH merah itu kepadaku. Gila. . 38B! kataku membaca ukuran yang tertera di BH itu.

“Boleh kupegang mbak” tanyaku basa-basi.

“Jangan cuma dipegang dong mas, remas. . Dan kulum nih. . Putting susunya” jar Riska dengan gaya nakal.

Perempuan itu menjatuhkan tubuh indahnya diatas sofa, aku memburunya dan segera menikmati kemontokan payudaranya. Kuremasi toket montok itu, lalu kuciumi dan terakhir kukulum putting susunya yang sebesar ibu jari dengan sekali-kali memainkannya diantara gigi-gigiku. Riska menggelinjang keenakan, nafasnya semakin terdengar resah, berkali-kali Riska mengeluarkan kata-kata jorok yang justru membuatku semakin bernafsu.

“Ngentot, enak banget mas. . jeritnya, Ayo Mas. . aku sudah pingin penetrasi nih!”

Aku yang juga sudah sangat bernafsu segera menjawab keinginan Riska. Dengan bantuan Riska kutelanjangi diriku hingga gak tersisa satupun busana ditubuhku. Riska sangat senang melihat ukuran k0ntolku yang panjang dan besar itu.

“Ohh. . Besar juga ya. .” ujar Riska.

Riska benar-benar bertingkah bagaikan perek murahan, namun justru itu yang kusuka. Perempuan ini segera membuka CD sebagai kain terakhir ditubuhnya. Kulihat daerah bukit vaginanya yang ditumbuhi rambut-rambut liar, dengan segaris bibir membelah ditengah-tengahnya. Bibir yang merah dan basah, sangat basah. Ingin rasanya kunikmati keindahan bibir kenikmatan Riska itu, tapi saat aku ingin melaksanakannya Riska menampikku.

“Sudah, nanti saja, masih ada babak selanjutnya, sekarang ayo kita selesaikan babak pertama”.

Riska duduk mengangkang diatas sofa. Kedua kakinya dibuka lebar-lebar mempersilakan kepadaku untuk melakukan penetrasi kenikmatan sesungguhnya. Aku-pun segera menyiapkan k0ntolku, mengarahkan ujung k0ntolku tepat didepan liang memek Riska dan perlahan namun pasti aku menekannya masuk.

Sedikit-demi sedikit k0ntolku tenggelam dalam kehangatan liang vagina Riska yang basah dan nikmat. Saat hampir seluruh batang k0ntolku yang berukuran 12cm itu memasuki memek, aku mencabutnya kembali. Kemudian kembali memasukkannya perlahan.

“Enghh. . Gila kamu mas, kalau begini sebentar saja aku puas” jerit Riska keenakan.

“Tak apa mbak, silahkan orgasme, kan masih ada babak selanjutnya” tantangku.

Sekarang kutambah rangsangan dengan meremas dan memilin putting susunya yang besar.

“Ooohh. . Ooohh. . Benar-benar enak mas” Riska memejamkan matanya.

Pada penetrasi kelima, Riska menjerit,

“Sudah Mas, jangan tarik lagi, aku mau. . Mau. . Oooouuuhhh. . !”

Dinding memek Riska melejat-lejat seakan memijit batang k0ntolku dalam kenikmatan birahi yang sedang direguknya.

“Oh. . aku sudah sekali mas” katanya sambil menarik nafas.

“Mas mau puas dulu atau mau lanjut babak kedua” tanya Riska.

“Terserah mbak” jawabku.

“Aku sih pasrah aja. Sini, aku kulum saja dulu”.

“Hmm. . Boleh juga” Kiran aja belum pernah oral denganu.

Kucabut k0ntolku dari dalam memek Riska yang basah dan menyodorkannya kedepn mulut Riska. Riska menjilati ujung k0ntolku dengan lidahnya seakan membersihkannya dari cairan memeknya sendiri, lalu dengan sangat bernafsu Riska memasukkan k0ntolku kedalam mulutnya. Bibir seksi Riska terlihat menyedot-nyedot k0ntolku seakan menyedot maniku untuk keluar. Riska kemudian mengocok k0ntolku dalam mulutnya hingga birahiku mencapai puncaknya.

“Ooohhh. . aku mau keluar nih, gimana , aku bingung apakah aku harus mengeluarkan maniku kedalam mulutnya atau mencabutnya”.

Namun Riska hanya mengangguk dan terus mengocoknya pertanda Riska tak keberatan jika aku memuntahkan maniku kedalam mulutnya. Akhirnya aku mencapai orgasme dan memuntahkan semua maniku kedalam mulut Riska. Wanita itu tanpa segan-segan menelan seluruh maniku. Sungguh lihai sekali peremuan ini memuaskan birahi laki-laki! Kami duduk sebentar dan minum air dingin, lalu Riska mengangkangkan kakinya kembali.

“Naaahhh. . Sekarang babak kedua mas, kalau mau jilat dulu silahkan, tapi utamakan yang ini ya” Riska menunjuk kearah klitorisnya yang agak besar.

“Oke mbak, aku juga sudah biasa kok” seruku.

Sejurus kemudian aku sudah berada dihadapan bibir memek Riska yang baru saja kunikmati. Sebelum kujilat terlebih dahulu kubelai bibir itu dari ujung bawah hingga klitoris. Kusingkap rambut-rambut kemaluannya yang menjalari bibir itu.

“Sudah gondrong nih mbak” seruku.

“Oohhh iya, habis mau dicukur percuma juga, gak ada yang lihat dan jilat” jawabnya nakal.

“Besok pagi aku cukur deh, namun janji malamnya mas Dafa datang lagi ya. . . Oke. .???”.

“Pokoknya setiap ada kesempatan aku siap menemani mbak Riska”.

Kemudian aku asyik menjilati dan menciumi klitoris Riska. Cairan emek Riska sudah mulai mengalir kembali pertanda dia sudah terangsang kembali. Desahan Riska jg memperkuat tanda bahwa Riska menikmati permainan oralku. Dengan nakal kumasukkan jari telunjuk dan tengahku kedalam memeknya dan kemudian mengobok-obok liang becek itu.


“Yes. . Asyik banget. . Say sudah siap babak kedua mas??’” seru Riska.

Aku sendiri sudah terangsang sejak melihat keindahan selangkangan Riska, jadi k0ntolku sudah siap menunaikan tugas keduanya. Riska menungging diatas sofa.

“Sekarang doggy-style ya mas. .”

“Aku sih iya saja, maklum. . Sama enaknya. .”

Sejurus kemudian kami sudah terlibat permainan babak kedua yang tak kalah seru dan panas dengan babak pertama, hanya kali ini aku memuntahkan manku didalam memeknya. Malam masih begitu panjang. Kami masih menikmati dua permainan lagi sebelum kelelahan dan mengantuk. Riska begitu bahagia dan aku sendiri merasa puas dan lega. Mimpiku untuk menikmati tubuh montok tetanggaku terlaksana sudah. Bahkan sekarang setiap waktu jika Kiran dinas keluar kota maka Riska secara resmi menggantikan posisi Kiran sebagai isteriku. Asyik uga, tapi sebagai imbalannya aku mencarikan dan menggaji pembantu rumah tangga dirumah Riska. Betapa bahagianya Riska dengan bantuanku itu, dia semakin sayang padaku dan berjanji akan melayaniku jauh lebih memuaskan dibanding pelayanan kepada suaminya.

Dari kejadian tersebut aku semakin menyadari kebenaran pepatah yaitu “Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau” atau bisa diganti dengan “Memek isteri tetangga selalu terasa lebih nikmat”. 


No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Agen Sex
OMPOKER Cerita Sex Dewasa Agen Domino99 Terpercaya Nonton Bokep Streaming omdomino warungqq agen judi Situs Poker online dewatogel99 oke77 Cerita Sex Dewasa Cerita Dewasa Terbaru Nonton Bokep Streaming Cerita Sex Dewasa